Rasulullah SAW bersabda, "Apabila anak Adam telah meninggal dunia
(mati) maka terputuslah seluruh amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu
shadaqah jariyah (yang ia berikan) atau ilmu yang ia manfaatkan
kebaikan) atau anak shalih yang mendoakan dirinya." (HR Muslim)
Artinya anak itu adalah investasi. Anak-anak keturunan kita itu
adalah bagian dari keselamatan dunia akhirat kita. Karenanya kita
harus serius menanamkan keshalihan pada anak-anak kita.
Kalau kita ingin menikmati masa depan kita, maka berapapun
pengeluaran yang dikeluarkan untuk mendidik anak agar menjadi shalih,
untuk belajar, sekolah dan lainnya, itu bukan biaya, melainkan
investasi (modal) yang akan mendatangkan keuntungan suatu saat kelak.
Saya pernah bertanya pada seseorang yang menyekolahkan anaknya ke
luar negeri. Ia menjawab, "Karena sebentar lagi perdagangan bebas,
kita perlu mempunyai anak-anak yang memiliki visi ke depan untuk
mengarungi era globalisasi."
Kemudian saya bertanya lagi, "Bagaimana kondisi ibadahnya di
sana?" "Nanti saja kalau dia kembali ke Indonesia akan diperbaiki
lagi." "Bagaimana kalau sebelum lulus kuliah sudah diambil nyawanya
oleh Allah? Apakah dia siap untuk pulang ke akhirat?"
Belum tentu anak kita panjang umur. Berapa banyak anak yang
mendahului orang tuanya pulang ke akhirat. Mereka jangan hanya
dipersiapkan agar bisa hidup kaya di dunia saja, tetapi juga harus
dipersiapkan agar bisa pulang dengan selamat, hidup mulia di akhirat.
Dari Umar bin Khattab ketika ditanya (semoga Allah ridha
kepadanya), "Ya Umar, apakah sama pahalanya jika saya mengurus orang
tua seperti orang tua mengurus saya di waktu kecil?"
"Tidak."
"Mengapa tidak?"
"Karena orang tua mengurus kamu supaya kamu panjang umur." Setelah
kita meninggal, mudah-mudahan anak-anak kita yang mengurus,
menyalatkan dan mengiringi jasad kita. Setelah kita dikubur, mudah-
mudahan mereka sering mendoakan kita dalam munajat-munajatnya.
Kasihan orang tua yang anaknya tidak tahu agama, sehingga tidak
mengerti bagaimana mengurus jasad ibu bapaknya, tidak tahu shalat
jenazah, dan setelah dikubur tidak mengerti bagaimana mendoakan orang
tuanya.
Warisan dipakai maksiat, vila dipakai zina, sehingga hancur dan perih
orang tuanya. Tidak sedikit orang yang hidupnya terlunta-lunta di
dunia karena anaknya, di akhirat tersiksa pula.
Jangan sampai orang tua belum meninggal, anak-anak sudah menghitung
warisannya. Bahkan ada anak yang mengurus orang tuanya yang sudah
jompo, tetapi dalam benaknya, "Kenapa lama sekali sakitnya?" karena
dia membutuhkan warisannya. Ini anak yang tidak shalih. Naudzubillahi
min dzalik.
Oleh karena itu, mengurus anak itu jangan pernah hanya dengan sisa
waktu, tenaga, dan pikiran. Bayangkan jika membangun investasi dengan
sesuatu yang serba sisa. Berembuklah dengan istri bagaimana
mengupayakan agar anak-anak kita menjadi hamba Allah yang bermanfaat
di dunia dan akhirat. Kebanggaan kita yang mempunyai anak yang mendapat
predikat Sarjana dalam ilmu dunia belumlah lengkap kalau tidak memiliki ilmu
pengetahuan tentang agama, karena ilmu agamalah yang akan memberi ke
berkahan pada ilmu dunia sehingga ilmu itu bermanfaat untuk dirinya keluarganya
dan masyarakat banyak
Para pemimpin sekarang adalah anak hasil investasi keluarga-keluarga
beberapa puluh tahun yang lalu, sedangkan anak-anak sekarang
merupakan investasi untuk para pemimpin masa depan. Karenanya jika
kita merindukan kebangkitan bangsa ini, maka harus diawali dengan
kebangkitan dari keluarga-keluarga di rumah.
Jika sang anak menjadi pemimpin, tentu tata nilai yang ditanamkan
dalam keluarganya yang akan digunakannya kelak. Jika pada masa
kecilnya tata nilai yang didapatkan di rumahnya hanya sibuk
memamerkan harta kekayaan, maka jangan heran kalau setelah menjadi
pemimpin dia hanya sibuk meraup harta.
Sekarang investasi apa yang akan ditanamkan terhadap anak-anak kita
di rumah? Kita perlu mengubah tata nilai seperti itu dengan melatih
anak-anak kita agar hidup bersahaja, mencari uang sebanyak mungkin
untuk dishadaqahkan. Sehingga setelah dewasa, dia makin kaya, makin
banyak orang yang tertolong. Dia makin berkuasa, makin banyak orang
yang terangkat martabatnya. Dia makin berani, makin banyak orang yang
terlindungi karena keberaniannya.
Ya Allah, titipkan kepada kami anak-anak keturunan yang lebih baik
dari pada kami, yang menjadi jalan kebahagiaan dan keselamatan bagi
dunia akhirat kami. Lindungi kami dari keturunan yang durhaka dan
durjana.
Sumber : http://republika.co.id